Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)

Pada dasarnya, semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda pada karakteristik dari masing-masing secara fisik. Perbedaan alami atau sering kita sebut dengan kodrat misalnya perbedaan jenis kelamin (biologis) yang dibawa sejak lahir antara perempuan dan laki-laki. Namun perbedaan itu akan menjadi suatu masalah ketika dijadikan suatu ketidakadilan, pertentangan,
penekanan dan penindasan satu sama lain. Perjuangan untuk terciptanya kesetaraan gender bukan untuk menentang ataupun menyaingi laki-laki, tetapi untuk memberikan ruang, akses dan kesempatan yang sama-sama bisa didapatkan oleh perempuan dan laki-laki. Namun masih banyak sekali stigma-stigma negatif yang berkembang dimasyarakat tentang kesetaraan gender bahkan orang-orang yang bersuara lantang tentang kesetaraan gender tidak jarang dianggap sebagai orang yang tak paham kodrat. Padahal sangat jelas sekali, gender dan kodrat sangatlah berbeda arti.

Di masa pandemi virus corona ini, kesetaraan gender masih tetap
diperjuangkan sampai saat ini. Salah satu urgensi yang dibawa adalah dengan banyaknya kekerasan berbasis gender. Satu dari sekian kekerasan yang terjadi adalah kekerasan berbasis gender yang saat ini berkembang secara daring seiring kemajuan perangkat teknologi dan internet yang dikenal dengan kekerasan berbasis gender online atau cyber. Dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2020 Komnas Perempuan mencatat kenaikan yang cukup signifikan yakni pengaduan kasus cyber crime 281 kasus (2018 tercatat 97 kasus) atau naik sebanyak 300%. Kasus cyber terbanyak berbentuk ancaman dan intimidasi penyebaran foto dan video porno korban. Selain dampak pada individu, konsekuensi utama dari kekerasan berbasis gender online adalah penciptaan masyarakat dimana perempuan tidak lagi merasa aman secara online dan atau di dunia nyata saat offline.

Perlindungan terhadap privasi di dunia maya adalah salah satu solusi
keamanan diri dari berbagai kekerasan atau kejahatan di dunia maya. Pada dasarnya, yang disebut privasi adalah hak fundamental, esensial untuk otonomi dan perlindungan martabat manusia yang menjadi landasan dimana banyak hak asasi manusia lainnya dibangun. Sangat disayangkan, jika teknologi yang seharusnya dimanfaatkan untuk kebaikan bagi dirinya ataupun kepada orang lain sehingga sama-sama merasakan dampak kebaikan dari teknologi, disalahgunakan untuk mengancam privasi orang lain sehingga berdampak buruk terutama bagi psikis korbannya.

Kekerasan berbasis gender online ini terjadi banyak penyebabnya. Salah satunya dilakukan karena perbedaan seks, kontruksi sosial yang mengakibatkan adanya kekerasan yang berdampak pada fisik maupun psikis. Ketidak-pahaman mengenai gender dan seks juga bisa menjadi penyebabnya. Maka dari itulah, kesetaraan gender akan tercipta jika terwujudnya kerjasama antara perempuan dan laki-laki untuk saling mendukung dalam hal kebaikan apapun.

Penulis: Khurrotul A’yun, Mahasiswi Universitas Islam Raden Rahmat Malang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *